Asma masih menjadi salah satu masalah kesehatan pernapasan yang signifikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Melalui analisis big data terhadap 55.500 data pasien, ditemukan 9.185 pasien asma (16,6%) dengan karakteristik yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Berikut ulasan hasil analisis tersebut, dilengkapi referensi jurnal terkait tahun 2020–2026
1. Usia Pasien: Asma Bukan Hanya Penyakit Anak-Anak
Rata-rata usia pasien asma adalah 51,6 tahun (rentang 13–89 tahun). Kelompok usia 31–75 tahun mendominasi hingga 66% dari total pasien, dengan puncak tertinggi pada 61–75 tahun (2.045 pasien/22,3%). Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menegaskan asma dapat menyerang seluruh kelompok umur, dipicu paparan polusi udara perkotaan, kondisi lingkungan, gaya hidup, dan riwayat infeksi saluran pernapasan.
2. Jenis Kelamin: Proporsi yang Nyaris Seimbang
Laki-laki 50,4% (4.632 pasien) vs perempuan 49,6% (4.553 pasien), selisih hanya 0,8%. Literatur mencatat risiko asma pada anak laki-laki lebih tinggi, namun berbalik pada usia dewasa di mana perempuan lebih rentan — diduga karena perbedaan ukuran saluran napas dan faktor hormonal. Proporsi seimbang di data ini mencerminkan campuran kelompok usia.
3. Golongan Darah: Tidak Ada Faktor Risiko Signifikan
Distribusi golongan darah sangat merata (12,1%–12,9%), menunjukkan tidak ada golongan darah tertentu yang lebih rentan. Golongan darah memang bukan faktor risiko utama dalam literatur asma; faktor yang lebih relevan adalah riwayat atopi, alergen, cuaca, polusi, dan riwayat keluarga.
4. Tipe Penerimaan Pasien: Sinyal Kesiapsiagaan Gawat Darurat
Elektif 33,8%, urgensi 33,5%, darurat 32,7% — hampir 2 dari 3 pasien masuk lewat jalur urgensi/darurat. Ini konsisten dengan sifat asma yang episodik dan dapat mengancam jiwa bila serangan tidak segera ditangani, menegaskan perlunya penguatan layanan gawat darurat dan edukasi pencegahan kekambuhan.
.jpeg)


0 Komentar